• Coba

4 times rejection before get the yellow jacket

11 February 2017 by Yuk-Belajar.com
2253
Views

0


Shares

Ditulis oleh Fahira khairunnisa Relawan yuk-belajar.com

Halo guys, aku mau berbagi cerita gimana aku bisa diterima sebagai mahasiswa Universitas Indonesia, aku diterimaa di FMIPA jurusan matematika. Mungkin banyak yang menganggap remeh jurusan ini, bahkan kadang orang menganggap FMIPA adalah fakultas ‘buangan’ karena banyak calon mahasiswa yang menaruh FMIPA di pilihan ke-2 atau ke-3 setelah memilih FK, FT, Fasilkom, atau fakultas-fakultas yang ‘dianggap keren’ lainnya. FMIPA memang ngga terlalu populer, banyak yang menganggap lulusan FMIPA hanya bisa jadi guru atau dosen, padahal ngga sesempit itu, banyak juga prospek kerja yang keren buat lulusan FMIPA. Untuk jurusan matematika sendiri, kalian bisa jadi aktuaris, itu kerjaan yang kece banget, dan butuh usaha yang kece juga pastinya.

Banyak siswa SMA atau bahkan sejak SMP yang mendambakan kampus ber-jaket kuning ini, entah karena keren almet nya, atau karena terletak di dekat ibukota atau memang sudah mengetahui kualitas UI dan juga lulusannya. Begitupun aku, sejak kelas 9 aku sudah memasang tulisan FMIPA UI di depan lemariku, aku ingin jadi guru atau dosen matematika. Saat SMA aku mulai searching tentang jurusan tersebut yang ternyata ngga cuma bisa jadi guru atau dosen. Tapi, dimasa-masa SMA itu sebenernya banyak banget pilihan yang muncul, jadi aku sempet beberapa kali ganti target. Aku bersekolah di SMA swasta di Bogor, pesantren modern, yang belum terlalu terkenal namanya di UI. Untuk jalur undangan SNMPTN, sekolahku ngga pernah ada yang tembus UI, paling banyak ke UNPAD, IPB, UB, dll. Bisa dibilang untuk milih UI di SNMPTN sama aja buang satu kesempatan, kecuali mungkin dia sangat pede, nilai nya memang super bagus dan super lucky juga.

Alumni yang masuk lewat ujian tulis juga bisa dihitung jari setiap tahunnya, yang membuat aku merasa UI kampus dewa yang untuk diterima sebagai mahasiswa di sana susah banget. Selain matematika, aku juga sempet berpikir mau ambil arsitektur, karena aku juga suka gambar dan desain, tapi orangtua ngga terlalu memberi jalan, banyak argumen yang mereka sampaikan dan banyak benarnya juga, jadi lebih baik turutin aja deh, karena orang tua lebih tau yang lebih baik untuk anaknya, dan restu orangtua itu penting banget guys.

Sampailah di penghujung kelas 12, sekolahku mendapatkan jatah 75% dari murid kelas 12 nya yang boleh mengikuti jalur undangan. Alhamdulillah aku termasuk 75% itu. Aku memilih matematika IPB, matematika UNPAD, dan statistika UNPAD. Banyak banget petimbangan yang bikin aku galau untuk milih 3 pilihan itu. Apalagi kalau ada teman yang memilih jurusan yang sama tetapi nilai nya lebih tinggi, terpaksa aku mengalah daripada mebuang kesempatan. Pada akhirnya ada seorang temanku yang memilih matematika ipb, dan  2 orang yang memilih matematika unpad juga. Tiba saat pengumuman SNMPTN, saat itu aku sudah sangat-sangat yakin degan hasilnya, walaupun agak harap-harap cemas, tapi aku merasa kali ini Allah berpihak padaku karena aku merasa sudah banyak beribadah, ngga cuma yang wajib, tahajud, duha, hajat, dan puasa sunah pun ku tingkatkan.

Tetapi ternyata belum rejeki ku saat itu. Aku di tolak pada tiga jurusan yang aku pilih. Aku kurang pas dalam menyusun strategi SNMPTN, karena disaat aku menaruh matematika unpad di pilihan 2, kedua temanku menaruhnya di pilihan 1, dan nilaiku juga ga jauh lebih tinggi dibanding mereka. Sebenernya masih banyak peluang di univ yang di luar jawa barat mungkin, ya intinya selain yang IPB dan UNPAD yang ada saingannya. Setidaknya kalau ngga ada saingan dari satu sekolah yang sama akan meningkatkan peluang diterima. Saat itu aku mikirnya ngga pengen kuliah jauh-jauh, karena sudah sejak SMP aku sekolah jauh dari orangtua, jadi kuliah ini aku pengen yang deket deket aja.

Untuk orang sepertiku yang sangat megharapkan diterima di jalur undangan, yang belum prepare SBMPTN sama sekali, bahkan belajar untuk UN aja udah ngos-ngosan, bukan hal mudah untuk menerimanya. Aku sudah membayangkan liburanku yang harusnya bisa santai, kini harus dipadati jadwal belajar untuk mengejar PTN. Di samping itu, ketiga temanku yang mendaftar matematika IPB dan juga UNPAD diterima.

Sedih? Siapa sih yang ngga sedih? Tapi aku bukan tipe orang yang berlarut-larut dalam kesedihan, because life must go on. Toh, masih banyak jalur lain. So I start study for preparing SBMPTN dan ujian-ujian lainnya. Untungnya aku udah ikut program bimbel intensif SBMPTN sejak selesai UN kurang lebih selama 1,5 bulan, memang sangat singkat untuk mempersiapkan ujian besar seperti ini. Tapi yaa nggapapa lah yang penting ada ikhtiarnya. Setelah beberapa kali tryout dari bimbelku, aku mendapatkan hasil yang saangat jauh dari target yang aku inginkan, padahal aku merasa sudah serius dalam belajar.

Sampai H-7 SBMPTN pun hasil nilai tryoutku bahkan belum mencapai setengah dari perkiraan passinggrade(pg) jurusan yang aku mau, mungkin karena aku memilih ITB, semua orang juga tau kalau pg ITB memang tinggi. Setelah pertimbangan dan perhitungan yang aku diskusikan dengan orangtuaku, aku memilih FMIPA ITB, Teknik Informatika UB, dan Matematika UNPAD. Awalnya aku memilih matematika IPB, tapi melihat peluangnya, keketatan FMIPA ITB tidak terlalu jauh lebih tinggi dibanding ITB. Kenapa aku ngga milih UI? Entah kenapa ngga kepikiran saat itu dan aku juga memperhitungkan letak univ nya, kalo bisa milih di tempat adem, kenapa milih ditempat panas? Itu pikiran konyol banget sih, tapi aku mikir aku bakal kuliah, aku bakal tinggal lama di sana, jadi aku harus mempertimbangkan kenyamanan juga. Dan kenapa aku tetep kekeuh berani milih ITB, saat itu aku berfikir selagi bisa nyoba kenapa engga, siapa tau rejekinya di sana, lagipula kita ngga bisa membaca takdir, so ngga ada salah nya kan mencoba peruntugan?

Selama masa-masa penuh ujian ini aku ngga pernah ikut TO eksternal, misalnya dari univ atau dari lembaga bimbel lain, aku hanya mengandalkan tryout dari lembaga bimbel ku, karena biasanya tryout-tryout itu bayar lagi. Tapi menurut aku tryout itu penting, semakin sering kamu ketemu soal, lama-lama kamu akan hafal tipe-tipe soal yang sering keluar, cara menyelesaikan soal-soal terebut, semakin terbiasa nyusun strategi, dan juga bisa mengukur kemampuan kamu. Kegagalan yang kuterima selanjutnya adalah jalur beasiswa Telkom. Kali ini aku sudah kebal, so aku hanya berkomentar ‘yasudahlahya masih ada yang lain’.

Orangtuaku sangat khawatir jika anaknya tidak dapat kuliah. Jadi mereka menganjurkanku untuk daftar ujian ini dan itu. Untuk ujian Telkom gelombang 2, aku lolos di jurusan Teknik Informatika, tapi karena bukan jalur beasiswa, ada uang pangkal sebesar 10 juta yang harus dibayar. Dan yang bikin galau banget adalah tanggal maksimal pembayaran uang pangkal itu tanggal 16 Juni sebelum pengumuman SBMPTN(28 Juni), UTMI IPB(29 Juni), SIMAK (30 Juni), UM UNDIP(31 Juni), uang nya ngga bisa balik kecuali kalau diterima SBMPTN. Disamping itu, Telkom juga termasuk PTS favorit yang kualitas nya juga bagus. Pada akhirnya aku melepas Telkom. Karena mama ku sangat yakin dengan doanya kalau anaknya bisa diterima di PTN. Toh masih banyak PTN yang membuka jalur mandiri.

Saat hari ujian SBMPTN, ada satu hal sepele tapi penting yang sangat aku sayangkan. Aku lupa bawa jam tangan! dan di kelas tempat ku ujian juga ngga ada jam dinding. Saat mengerjakan soal, aku ngga nyadar waktu berlalu begitu cepat dan aku terlalu asik ngerjain soal matematika yang caranya panjang dan memakan banyak waktu. Aku merasa ujian kali ini kacau dan aku sangat ngga yakin bisa dapet ITB, dapet pilihan 3 juga bersyukur deh. Hanya keajaiban yang bisa lolosin aku di SBMPTN ini. Seusai SBMPTN, aku pun lebih giat berdoa dan belajar lagi mepersiapkan ujian-ujian mandiri.

Dan sudah bisa ditebak, saat pengumuman SBMPTN, aku gagal lagi. Kali ini aku ngga terlalu sakit hati, karena sudah pengalaman sebelumnya, jadi aku ngga terlalu memikirkannya. Di grup SMA sudah bermunculan ucapan selamat untuk si ini dan si itu yang berhasil di SBMPTN. Aku turut senang atas keberhasilan mereka, tapi di sisi lain aku merasa sedih, aku takut ngecewain orangtuaku juga guru-guruku, aku takut ngga bisa jadi contoh yang baik buat adik-adikku, aku merasa sangat terbebani saat itu.

Kegagalan berikutnya adalah ujian mandiri IPB atau biasa disebut UTMI, kampus impian aku banget selama kelas 12 sampai dengan pengumuman UTMI, dan ternyata aku ditolak lagi. Aku sedih banget kali ini, aku sangat mendambakan IPB, karena tempatnya adem, dan aku juga pernah kunjungan dan ikut lomba kesana, mungkin itu yang bikin aku makin tertarik sama IPB, ditambah pengaruh teman-teman dekatku yang sudah diterima SNMPTN disana. Sebenernya saat mau mendaftar UTMI orangtuaku agak ragu karena kuotanya yang sangat sedikit sehingga peluang nya pun sangat kecil, dan juga biaya tes nya yang paling mahal diantara ujian-ujian yang aku ikuti, di tahunku biayanya Rp 500.000,00. Dan kuota untuk jurusan matematika saat itu hanya 7 orang dari ratusan pendaftar. Tapi karena aku kekeh banget mau IPB, orangtuaku mengiyakan. Sayangnya ternyata IPB bukan jodoh ku.

Tibalah pengumuman SIMAK UI, aku ngga terlalu yakin untuk ini, karena saat mengerjakan soal aku ada beberapa yang ngasal dan taulah kalau soal SIMAK UI tuh high level. Aku juga udah males-malesan buat buka pengumuman setelah beberapa kali ditolak bosen juga. Kali ini aku pasrahin semuanya ke Allah. Mama udah ngga sabar menyuruhku untuk membuka pengumumannya, aku menanggapi nya dengan tidak bersemangat, “Males ah, paling lola(loading lama) mah, ntaran aja udah sepi yang buka”, ngga lama aku pun mencoba membukanya AND FINALLY I GOT IT!! Alhamdulillah ,perjuanganku setelah ditolak 4x akhirnya berhasil! Mamaku langsung memelukku dan mengucapkan selamat juga memberikan petuah. Orangtua mana yang ngga bangga anaknya diterima di UI. Saking senangnya mama langsung menelfon dan nenek untuk mengabarkannya. Besoknya pengumuman UNDIP, dan ternyata ditolak juga, padahal menurutku ujian UNDIP lebih mudah daripada SIMAK. Aku bersyukur banget bisa dapet PTN, setidaknya uang yang dipakai untuk ikut ujian ini dan itu tidak sia-sia. Dan orangtuaku juga ngga perlu ngeluarin uang lebih buat nyekolahin aku di PTS yang uang pangkal nya lumayan.

Rencana Allah memang selalu indah, so jangan putus asa buat kalian yang udah berkali-kali gagal, karena setiap orang punya rejeki masing-masing yang ngga mungkin tertukar dengan orang lain, karena peluang itu selalu ada, belum tentu orang yang selalu juara kelas dapet tempat yang bagus, dan belum tentu anak yang biasa aja ngga akan dapet tempat yang bagus. Tentunya Allah juga tau timing yang tepat untuk kita menerima hadiah Nya, yang paling penting kita harus tetap usaha buat dapetin apa yang kita mau.